Jumat, 29 Mei 2015

Smile in Turen, Loph Loph








diantara keutamaan dan kebaikanmu



Diantara Keutamaan Dan Kebaikanmu
Penulis: Najib Mahfudz dikutip dari kumpulan hikayat dengan judul
“Saya Bermimpi Dalam Tidurku”

Cinta telah bersemi dalam peraduannya sejak masa Sekolah Menengah Pertama, ketika seorang pangeran cinta berusia 15 tahun, dan seorang putri jelita berumur 14 tahun. Keduanya menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi hingga mereka duduk dibangku kuliah, cinta itu pun kian terungkap dan menguat. Ia adalah seorang lelaki gagah, tampan dan kulitnya nampak sawo matang, sedangkan sang pujaan hati tidak jauh beda darinya. Namun kecantikannya di dalam hati sang kekasih berkilauan bagaikan sinar yang menyihir. Ternyata keduanya bersama keluarganya hidup berdampingan dalam satu apartemen di Jalan Mariyot Al-Bakriy, tapi mereka berdua tidak saling mengenal satu sama lain, dan tidak saling bertegur-sapa, ia baru tahu ketika mendapatkan sedikit informasi tentang keluarga kekasihnya (Jamilah) dari pembicaraanya, bapaknya dikenal dengan nama Abdur Rahim Yusri, ia berasal dari golongan orang-orang terhormat, mantan seorang penerjemah di suatu departemen, yang akhir-akhir ini beliau lebih fokus pada hal-hal yang berbau ibadah dan bermain pimpong. Sedangkan ibunya bernama Syamah Lutfillah, seorang pengawas pendidikan dan pengajaran yang dikenal dengan ketegasannya yang sering muncul di layar televisi. Jamilah mempunyai tiga saudara, kakak tertuanya adalah seorang panglima militer yang gugur (syahid) dalam peperangan pada tahun 1948, dan kedua kakak lainnya adalah seorang  insinyur dan seorang pakar perekonomian yang bekerja sama dalam perusahaannya. Sedangkan Jamilah tidak begitu berprestasi dalam pendidikannya. Begitu juga dengan kekasihnya, ia hanya senang bemain sepak bola dengan kemampuan yang biasa-biasa saja, dan juga kurang memperhatikan kehidupan sosial sebagaimana bapak dan ibunya, sedangkan kedua saudarinya pindah bersama suaminya ke Libia dan Bahrain. Sehingga tidak terdengar di tempat itu menerima atau menolak pandangan-pandangan atau informasi-informasi yang didapat, mereka diam bagaikan para penonton, tidak ada keterlibatan emosional, seakan-akan mereka hidup di planet lain. Pembicaraan hanya berputar tentang sekolah, sinetron-sinetron televisi, bola, makanan, atau peralatan rumah tangga  dimana Tuan Ibrahim Ad-Dharaji bekerja sebagai pemeriksa keuangan (Auditor), sedangkan Ummu Biyasah Fadlillah di bagian periklanan (Advertising). Abdul Fattah melihat Jamilah pertama kali di Jalan Mariyot yang ujung timurnya adalah jalan umum yang menghadap ke Kota Mesir Baru, kemudian Abdul Fattah juga melihatnya di pintu masuk/gerbang. Hubungan mereka dimulai dengan baik, yang dihiasi dengan kasih sayang dan kelembutan. Akhirnya mereka saling bertukar sapa dan senyum.
Pertemuan itu berlanjut di jalan umum yang sepi. Dari situlah terpancar suasana kehidupan baru dalam hatinya dengan inspirasi yang kuat. Abdul Fattah mengungkapkan isi hatinya, ia berjanji akan mengarungi kehidupan bersama sehidup semati, dengan menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada Jamilah, ia pun melantunkan kata yang indah kepadanya ”Hidupku hampa tanpa hadirmu disisiku”.
Abdul Fattah menuai setetes perhatian menuju kehidupan yang baru yang telah disepakati bersama dengan semangat baru. Ia mampu melalui aral yang melintang tanpa memperdulikan orang lain. Ia hidup bahagia selama dua tahun, merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun, Jamilah menjalaninya dengan tidak serius dan mulai ragu darinya tanpa sepengetahuan Abdul Fattah -layaknya kebanyakan orang- sehingga hanya menyisakan sebatas impian dan kenangan. Cinta telah berpaling menghantarkan kematian. Jiwanya runtuh sehingga terucap darinya ”Aku tak punya cerita cinta, namun cerita itu bermula setelah pupusnya cinta”. Abdul Fattah menerima surat dari teman Jamilah yang mengetahui hubungan mereka, yang mengabarkan bahwa Jamilah telah dipinang orang lain. Akan tetapi Jamilah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela cintanya. Ia berada dalam kesedihan yang menyakitkan, namun dia tidak mungkin memutus hubungan pertunangannya. Abdul Fattah membacanya berulang-ulang. Hatinya bergejolak, ”Kenapa semua ini bisa terjadi ???”, ”Apa sebabnya???”, ”Beginikah caranya???”. Abdul Fattah berkata kepada pengirim surat itu (Busainah) dan kepada orang yang mendengarnya : ”Apa-apaan ini ???”.....”Ini Telegraf bukan surat...!!!!” hatinya pun terasa teriris.
Butsainah berkata sambil memintakan maaf untuk sahabatnya : ”Sebenarnya perasaannya lebih besar dari semua ini, namun ia tidak bisa menguraikan tulisannya dengan baik !”.
Butsainah memberitahukan bahwa Jamilah sedang mengalami sakit hati yang mendalam, ia juga memohon kepada ibunya agar membiarkannya dan memperdulikannya (berhubungan dengan Abdul Fattah), membiarkannya menunggunya, ia pun rela dengan keadaannya, namun tiada waktu yang tepat dan alasan yang kuat, ia rela menerima kenyataan hidup yang suram jika ia hidup bersama Abdul Fattah, dari biaya pernikahan yang cukup mahal, tempat tinggal yang kurang layak, dan rendahnya status. Tidak ada harapan lagi untuk bersama Abdul Fattah kecuali ia harus kaya dan harus meninggalkan keluarganya. Orang yang melamar Jamiah yaitu Hamid Bin Mudhar dia sangat cocok dengan keadaan keluarganya pada waktu itu. Dia berusia 40 tahun akan tetapi dia memiliki martabat yang tinggi, samping itu dia juga mempunyai profesi khusus yang menjadikan dia orang yang terhormat dan juga mampu untuk menghidupi kehidupan keluarganya serta di pundaknyalah kehidupan yang mulia dan kebahagiaan yang sesungguhnya, bukan kebahagiaan yang semu itu yang akan cepat musnah dengan kehidupan yang sengsara dan sempit. Diantara keistimewaannya dia memiliki masa depan yang tak diragukan lagi dan dia mampu, juga terhormat, maka tidak ada alasan dalam usianya, bagaimanapun dia tidak terlalu tua untuk membina rumah tangga. Dan Butsainah pun berlalu seraya berkata “Sebenarnya Jamilah tak ingin memperpanjang penjelaasnnya, barangkali saja dia tidak pernah membayangkan hal itu bisa terjadi”. Makanya Jamilah mencoba memikat hati ibunya dan juga ayahnya kendati pun ayahnya berkata “ Perjalananmu membutuhkan pengorbanan, aku bersumpah padamu, demi shalatku, aku bilang apa adanya, apa yang kamu rasakan dengan pemuda itu, bukanlah cinta seumurmu (hanya cinta monyet), hati tidak akan tahu hakikat cinta, kamu akan tahu itu dengan dirimu sendiri. Saat itu juga Butsainah berkata:
Boleh jadi dengan peristiwa itu Jamilah hanya bisa pasrah, Ia bahkan mau berhenti sekolah karena seseungguhnya ia kurang begitu senang dengan sekoahnya”.
Lalu Abdul Fattah mengikutinya dengan langkah gontai dengan gejolak hati dipenuhi amarah nan kepedihan. Abdul Fattah memaksa diri untuk menjumpai Jamilah sembari memaksa Butsainah untuk memperhatikan hal itu juga. Sedang beberapa hari kemudian Jamilah datang dengan kondisi jiwa yang gersang nan penampilan yang sangat sederhana, Jamilah datang dengan mata berkaca-kaca nan di selimuti rasa malu seraya menggenggam jari jemarinya dan menyebunyikannya dibalik sapu tangan kecil putihnya. Sapaannya tanpa senyuman seraya berbisik “ Sungguh aku kasihan padamu”. Tatapan Jamilah membuat terpaku, membisu meski nada-nada suaranya memendam api-api amarah. Seraya dia berkata “Kau bunuh aku lalu kau kasihani aku, Entah apa gerangan yang bisa aku buat dari rasa kasihanmu?”.
Maka jamilah berkata pada Abdul Fattah dengan nada emosi: ”Kesedihanku lebih dahsyat dari apa yang engkau bayangkan”. Dia pun (Abdul Fattah) berkata sambil mengejek: “Kamu benar dengan anggapanu selama ini”.
Jangan kau sakiti aku”…
 Tolak saja lamaran itu dan kembalilah padaku”….
Jamilah terdiam dalam keheningan, sedangkan amarah Abdul Fattah mulai memuncak, kemudian dia bertanya “ Apa kamu bilang?”
Jamilah berkata sambil berbisik “Kita tidak akan pernah bisa bersatu seperti yang kita harapkan
Kemudian Abdul Fattah berkata sambil menahan amarahnya,“Aku tahu apa yang mereka katakan tapi cinta kita lebih besar dari itu semua”.
Jamilah berkata dan mata indahnya mulai berkaca-kaca “Kenyataan lebih kuat dari khayalan kita”
“Ternyata cintamu tak sekuat yang aku bayangkan”
“Jangan kau sakiti aku”
Abdul Fattah merasa bahwa jamilah tidak bisa merubah keputusannya, dia tidak lagi mencintainya sungguh dia sama sekali tidak mencintainya. Abdul Fattah marah “dasar pembohong”
Jamilah berbisik dengan penuh ketakutan. “Apa????”
“Aku kecewa padamu”
Kemudian jamilah melanjutkan perkataannya “Jangan kau buat aku lebih menderita lagi”
Tak terasa tangan Abdul Fattah melayang di pipi Jamilah kemudian Jamilah mengelak dari tamparan itu dan baru kemudian Abdul Fattah sadar dan menghampiri Jamilah sambil berkata “Maaf aku tidak sengaja melakukan hal itu “
“Cukup….”
“Aku perihatin padamu”
Kemudian jamilah berkata dengan suara lirih “Aku harus pergi”
Abdul Fatah pergi bergitu saja. Dia melangkahkan kakinya menuju arah utara sedangkan udara diselimuti oleh kegelapan yang disertai hembusan angin kering. Dia heran betapa hampanya hidup. Dia diselimuti rasa sakit yang begitu mendalam. Rasa sakit dan hampa, datang silih berganti. Seandainya cinta itu penyakit maka pasti ada obatnya. Tapi dimana, bagaimana dan kapan obat itu bisa didapat???. Dia pikir telah berbuat salah telah meninggalkannya Ia berjalan dalam kebingungan ingin menyusul langkah jamilah, tapi jamilah hilang tanpa jejak. Rasa hampa dan sakit kembali ia rasakan….,

hindun kirana





oppa