Kamis, 15 Oktober 2015
Jumat, 29 Mei 2015
diantara keutamaan dan kebaikanmu
”Diantara Keutamaan Dan Kebaikanmu”
Penulis: Najib Mahfudz dikutip dari
kumpulan hikayat dengan judul
“Saya Bermimpi Dalam Tidurku”
Cinta
telah bersemi dalam peraduannya sejak masa Sekolah Menengah Pertama, ketika
seorang pangeran cinta berusia 15 tahun, dan seorang putri jelita berumur 14
tahun. Keduanya menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi hingga mereka duduk
dibangku kuliah, cinta itu pun kian terungkap dan menguat. Ia adalah seorang
lelaki gagah, tampan dan kulitnya nampak sawo matang, sedangkan sang pujaan
hati tidak jauh beda darinya. Namun kecantikannya di dalam hati sang kekasih
berkilauan bagaikan sinar yang menyihir. Ternyata keduanya bersama keluarganya
hidup berdampingan dalam satu apartemen di Jalan Mariyot Al-Bakriy, tapi mereka
berdua tidak saling mengenal satu sama lain, dan tidak saling bertegur-sapa, ia
baru tahu ketika mendapatkan sedikit informasi tentang keluarga kekasihnya
(Jamilah) dari pembicaraanya, bapaknya dikenal dengan nama Abdur Rahim Yusri,
ia berasal dari golongan orang-orang terhormat, mantan seorang penerjemah di
suatu departemen, yang akhir-akhir ini beliau lebih fokus pada hal-hal yang
berbau ibadah dan bermain pimpong. Sedangkan ibunya bernama Syamah Lutfillah,
seorang pengawas pendidikan dan pengajaran yang dikenal dengan ketegasannya
yang sering muncul di layar televisi. Jamilah mempunyai tiga saudara, kakak
tertuanya adalah seorang panglima militer yang gugur (syahid) dalam peperangan
pada tahun 1948, dan kedua kakak lainnya adalah seorang insinyur dan seorang pakar perekonomian yang
bekerja sama dalam perusahaannya. Sedangkan Jamilah tidak begitu berprestasi
dalam pendidikannya. Begitu juga dengan kekasihnya, ia hanya senang bemain
sepak bola dengan kemampuan yang biasa-biasa saja, dan juga kurang
memperhatikan kehidupan sosial sebagaimana bapak dan ibunya, sedangkan kedua
saudarinya pindah bersama suaminya ke Libia dan Bahrain. Sehingga tidak
terdengar di tempat itu menerima atau menolak pandangan-pandangan atau
informasi-informasi yang didapat, mereka diam bagaikan para penonton, tidak ada
keterlibatan emosional, seakan-akan mereka hidup di planet lain. Pembicaraan
hanya berputar tentang sekolah, sinetron-sinetron televisi, bola, makanan, atau
peralatan rumah tangga dimana Tuan Ibrahim
Ad-Dharaji bekerja sebagai pemeriksa keuangan (Auditor), sedangkan Ummu
Biyasah Fadlillah di bagian periklanan (Advertising). Abdul Fattah
melihat Jamilah pertama kali di Jalan Mariyot yang ujung timurnya adalah jalan
umum yang menghadap ke Kota Mesir Baru, kemudian Abdul Fattah juga melihatnya
di pintu masuk/gerbang. Hubungan mereka dimulai dengan baik, yang dihiasi
dengan kasih sayang dan kelembutan. Akhirnya mereka saling bertukar sapa dan
senyum.
Pertemuan
itu berlanjut di jalan umum yang sepi. Dari situlah terpancar suasana kehidupan
baru dalam hatinya dengan inspirasi yang kuat. Abdul Fattah mengungkapkan isi
hatinya, ia berjanji akan mengarungi kehidupan bersama sehidup semati, dengan
menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada Jamilah, ia pun melantunkan kata
yang indah kepadanya ”Hidupku hampa tanpa hadirmu disisiku”.
Abdul
Fattah menuai setetes perhatian menuju kehidupan yang baru yang telah
disepakati bersama dengan semangat baru. Ia mampu melalui aral yang melintang
tanpa memperdulikan orang lain. Ia hidup bahagia selama dua tahun, merasakan
kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun, Jamilah menjalaninya dengan tidak serius
dan mulai ragu darinya tanpa sepengetahuan Abdul Fattah -layaknya kebanyakan
orang- sehingga hanya menyisakan sebatas impian dan kenangan. Cinta telah berpaling
menghantarkan kematian. Jiwanya runtuh sehingga terucap darinya ”Aku tak
punya cerita cinta, namun cerita itu bermula setelah pupusnya cinta”. Abdul
Fattah menerima surat dari teman Jamilah yang mengetahui hubungan mereka, yang mengabarkan
bahwa Jamilah telah dipinang orang lain. Akan tetapi Jamilah tidak bisa berbuat
apa-apa untuk membela cintanya. Ia berada dalam kesedihan yang menyakitkan,
namun dia tidak mungkin memutus hubungan pertunangannya. Abdul Fattah
membacanya berulang-ulang. Hatinya bergejolak, ”Kenapa semua ini bisa
terjadi ???”, ”Apa sebabnya???”, ”Beginikah caranya???”. Abdul
Fattah berkata kepada pengirim surat itu (Busainah) dan kepada orang yang
mendengarnya : ”Apa-apaan ini ???”.....”Ini Telegraf bukan surat...!!!!”
hatinya pun terasa teriris.
Butsainah
berkata sambil memintakan maaf untuk sahabatnya : ”Sebenarnya perasaannya
lebih besar dari semua ini, namun ia tidak bisa menguraikan tulisannya dengan
baik !”.
Butsainah
memberitahukan bahwa Jamilah sedang mengalami sakit hati yang mendalam, ia juga
memohon kepada ibunya agar membiarkannya dan memperdulikannya (berhubungan
dengan Abdul Fattah), membiarkannya menunggunya, ia pun rela dengan keadaannya,
namun tiada waktu yang tepat dan alasan yang kuat, ia rela menerima kenyataan
hidup yang suram jika ia hidup bersama Abdul Fattah, dari biaya pernikahan yang
cukup mahal, tempat tinggal yang kurang layak, dan rendahnya status. Tidak ada
harapan lagi untuk bersama Abdul Fattah kecuali ia harus kaya dan harus
meninggalkan keluarganya. Orang yang melamar Jamiah yaitu Hamid Bin Mudhar dia
sangat cocok dengan keadaan keluarganya pada waktu itu. Dia berusia 40 tahun
akan tetapi dia memiliki martabat yang tinggi, samping itu dia juga mempunyai profesi
khusus yang menjadikan dia orang yang terhormat dan juga mampu untuk menghidupi
kehidupan keluarganya serta di pundaknyalah kehidupan yang mulia dan kebahagiaan
yang sesungguhnya, bukan kebahagiaan yang semu itu yang akan cepat musnah
dengan kehidupan yang sengsara dan sempit. Diantara keistimewaannya dia
memiliki masa depan yang tak diragukan lagi dan dia mampu, juga terhormat, maka
tidak ada alasan dalam usianya, bagaimanapun dia tidak terlalu tua untuk
membina rumah tangga. Dan Butsainah pun berlalu seraya berkata “Sebenarnya
Jamilah tak ingin memperpanjang penjelaasnnya, barangkali saja dia tidak pernah
membayangkan hal itu bisa terjadi”. Makanya Jamilah mencoba memikat hati
ibunya dan juga ayahnya kendati pun ayahnya berkata “ Perjalananmu membutuhkan
pengorbanan, aku bersumpah padamu, demi shalatku, aku bilang apa adanya, apa
yang kamu rasakan dengan pemuda itu, bukanlah cinta seumurmu (hanya cinta
monyet), hati tidak akan tahu hakikat cinta, kamu akan tahu itu dengan dirimu
sendiri. Saat itu juga Butsainah berkata:
“Boleh
jadi dengan peristiwa itu Jamilah hanya bisa pasrah, Ia bahkan mau berhenti
sekolah karena seseungguhnya ia kurang begitu senang dengan sekoahnya”.
Lalu
Abdul Fattah mengikutinya dengan langkah gontai dengan gejolak hati dipenuhi amarah
nan kepedihan. Abdul Fattah memaksa diri untuk menjumpai Jamilah sembari
memaksa Butsainah untuk memperhatikan hal itu juga. Sedang beberapa hari
kemudian Jamilah datang dengan kondisi jiwa yang gersang nan penampilan yang
sangat sederhana, Jamilah datang dengan mata berkaca-kaca nan di selimuti rasa
malu seraya menggenggam jari jemarinya dan menyebunyikannya dibalik sapu tangan
kecil putihnya. Sapaannya tanpa senyuman seraya berbisik “ Sungguh aku
kasihan padamu”. Tatapan Jamilah membuat terpaku, membisu meski nada-nada
suaranya memendam api-api amarah. Seraya dia berkata “Kau bunuh aku lalu kau
kasihani aku, Entah apa gerangan yang bisa aku buat dari rasa kasihanmu?”.
Maka
jamilah berkata pada Abdul Fattah dengan nada emosi: ”Kesedihanku lebih
dahsyat dari apa yang engkau bayangkan”. Dia pun (Abdul Fattah) berkata
sambil mengejek: “Kamu benar dengan anggapanu selama ini”.
”Jangan
kau sakiti aku”…
“Tolak
saja lamaran itu dan kembalilah padaku”….
Jamilah
terdiam dalam keheningan, sedangkan amarah Abdul Fattah mulai memuncak,
kemudian dia bertanya “ Apa kamu bilang?”
Jamilah
berkata sambil berbisik “Kita tidak akan pernah bisa bersatu seperti yang
kita harapkan”
Kemudian
Abdul Fattah berkata sambil menahan amarahnya,“Aku tahu apa yang mereka katakan
tapi cinta kita lebih besar dari itu semua”.
Jamilah
berkata dan mata indahnya mulai berkaca-kaca “Kenyataan lebih kuat dari
khayalan kita”
“Ternyata cintamu tak sekuat yang aku
bayangkan”
“Jangan kau sakiti aku”
Abdul Fattah merasa bahwa
jamilah tidak bisa merubah keputusannya, dia tidak lagi mencintainya sungguh
dia sama sekali tidak mencintainya. Abdul Fattah marah “dasar pembohong”
Jamilah
berbisik dengan penuh ketakutan. “Apa????”
“Aku kecewa padamu”
Kemudian
jamilah melanjutkan perkataannya “Jangan kau buat aku lebih menderita lagi”
Tak
terasa tangan Abdul Fattah melayang di pipi Jamilah kemudian Jamilah mengelak
dari tamparan itu dan baru kemudian Abdul Fattah sadar dan menghampiri Jamilah sambil
berkata “Maaf aku tidak sengaja melakukan hal itu “
“Cukup….”
“Aku perihatin padamu”
Kemudian
jamilah berkata dengan suara lirih “Aku harus pergi”
Abdul
Fatah pergi bergitu saja. Dia melangkahkan kakinya menuju arah utara sedangkan
udara diselimuti oleh kegelapan yang disertai hembusan angin kering. Dia heran
betapa hampanya hidup. Dia diselimuti rasa sakit yang begitu mendalam. Rasa
sakit dan hampa, datang silih berganti. Seandainya cinta itu penyakit maka
pasti ada obatnya. Tapi dimana, bagaimana dan kapan obat itu bisa didapat???.
Dia pikir telah berbuat salah telah meninggalkannya Ia berjalan dalam kebingungan
ingin menyusul langkah jamilah, tapi jamilah hilang tanpa jejak. Rasa hampa dan sakit
kembali ia rasakan….,
Langganan:
Postingan (Atom)












